Archive for September, 2007

Sep 29 2007

Profile Image of ijoroyoroyo
ijoroyoroyo

Ketika Mas Gagah Pergi

Filed under Uncategorized

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus
saudara
kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah! Mas Gagah Perwira
Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak
yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja?ganteng !Mas Gagah juga
sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk
anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia
selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh
pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan
oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu
melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit
waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton
film atau konser musik a tau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas
Gagah yang humoris itu akan membuat
lelucon-lelocon santai hingga aku dan
teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling
mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami
mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan
Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga,
nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka
membanding-bandingk an teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe
kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma
mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa
jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi
kuliah. Lagian kalau Mas
pacaran?, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he?" Kata
Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia
punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat
tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan
belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya
lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah
kemana?

"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh! " teriakku kesal sambil mengetuk pintu
kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah
ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah.
Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca
artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu’alaikum! "seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok
teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya!"kataku sewot.

"Lho memangnya kenapa?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang
Arab?, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"

"Bodo!"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal
yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah
sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama
bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang
baru?,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan? "

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia
atau bahasa Inggris. Bagus lho!"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil
membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi
begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric
Claptonnya?"

"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton
belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid
senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak
kok!" begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak
malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup
jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah
tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di
Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang
kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir
ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya,
atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim.
Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu
rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain
sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy.
Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas
Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau
kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh
sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama
menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk
sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu?"

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana.
Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan
kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang
semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan
supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah
lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti
dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama
perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah
kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh
salaman sama perempuan! Kupikir apa
sih maunya Mas Gagah?"

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia
tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan
gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"

"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya,
lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda
salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu?, sekarang bawa-bawa orang
Sunda. Apa hubungannya? "

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca! "

Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah,
Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan
mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."

Mas Gagah tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto,
Ustadz
Ali?," kataku.

"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah
sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi
dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi
nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok
agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas
Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu
tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya
jernih dan tajam. Hanya?yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja.
Kutarik napas dalam-dalam.

"Mau kemana Gita?"

"Nonton sama temen-temen. " Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas
Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."

"Ikut Mas aja yuk!"

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di
sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah
temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig
akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain
yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja
lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol
yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju
panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam
nggak mau ikut.

"Assalamualaikum! " terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan
teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas
Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku?, persis
kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Gita
nggak dikenalin?"tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas
Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya
lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal
keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab? yaa begitu deh!

"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris
mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan
berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?"
Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik
kami.

"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara.
Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil
menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis
kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya
Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang
seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka
hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang
belum ngerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang
dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap
dekat Gita?mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika
tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah?" kataku jujur.
"Selama ini aku
pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih?"

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang
kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita
bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

"Mbak Ana?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah
pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

"Hidayah."

"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"

"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung
pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain,
Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster,
kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia.
Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua
rak
koleksi buku keislaman?

"Cuma lagi baca!"

"Buku apa?"

"Tumben kamu pingin tahu?"

"Tunjukkin dong, Mas?buku apa sih?"desakku.

"Eiit?eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan
buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama
membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.

"Maaas?"

"Apa Dik Manis?"

"Gita akhwat bukan sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab?" tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara
padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan
tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi
sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang
hal-hal-lainnya. Dan untuk
pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang
dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat
sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih
karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah.
Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang,
saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya,
mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat
perasa. Sangat peduli?

"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.

"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah
menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat
hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski
aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini
tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah
umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku
dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga
ikut.

"Apa nggak bosan, Pa?tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu.
Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.
Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat
bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah.
Tempat
acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama
souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil
mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang,
baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam
Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran.
Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak
mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa
diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih
dicintai Allah kayak Mama."

Memang sudah beberapa hari ini Mama
berjilbab, gara-garanya dinasihati
terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin
oleh teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan
seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku. Aku
menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali
terpengaruh dengan Mas Gagah.

"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau
senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai
rok aja udah hidayah.

"Lho! " Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak
bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini,
Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara
ratusan peserta rasanya ingin
berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang
dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia
bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits.
Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho
Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih
bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar
yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan
tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas
mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya
karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai
identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang
Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya
kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah
Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat
histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore
aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab
putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran
ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas
Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan
mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah
dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang. "
kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung
berangkat dari kampus?"

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah
temannya, atau di Mesjid. "

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini."
Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali
sama Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam,
Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga
kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera
pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiinggg! " telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah?kecelakaan? Rumah Sakit Islam?" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh! !!" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama
menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki,
tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk
menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas
seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai
jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."

Di pojok
ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus
menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku.
"Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku
terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding
putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan
enerjik itu bahkan tak bergerak.

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas?Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang
manis. Mas..Gagah?" bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini
telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui
anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya
Allah, selamatkan Mas Gagah?Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah?umat juga."

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah
sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."

"Gita?" suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar
baginya untuk bertahan. Maafkan saya?lukanya terlalu parah." Perkataan
terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

"Mas?ini Gita Mas.." sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih.
Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir?Mas. " Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah
yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

"Gi..ta?"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

"Gita di sini, Mas?"
Perlahan kelopak matanya terbuka.

"Aku tersenyum."Gita? udah pakai?jilbab? " kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan
sesuatu seperti hamdallah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas?" ujarku pelan ketika kulihat ia
berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa
dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah?sesaat kulihat
Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah
lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua
berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi
sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar
apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan
isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah
banyak-banyak? Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah
pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus
hidup, tetapi sebagai
insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada
ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa?ilaaha? illa..llah? Muham?mad Ra..sul ?Allah? suara Mas Gagah pelan,
namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum
menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu
kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia
pergi. Selamat jalan Mas Gagah.

Epilog:

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,

Dan jadilah muslimah sejati

Agar Allah selalu besertamu.

Sun sayang,

Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi
rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh,
ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado
untuk hari ulang tahunku. Aku
tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik
manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu
suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan
kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku.
Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, insya Allah akhwat!"

"Yang bener?"

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"

"Kok nanya gitu sih?"

"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"

"Ganteng kan?"

"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong, jihad itu?"

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu.
Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas
Ikhwan!Selamat jalan
Mas Gagah!

Helvi Tiana Rosa

No responses yet

Sep 07 2007

Profile Image of ijoroyoroyo
ijoroyoroyo

untuk Ayah

Filed under Uncategorized

Bagaimana mampu kukatakan padamu Ayah, sementara kata-katamu tertubruk oleh batuk. Aku sibuk menatapmu. Bagaimana kujelaskan padamu Ayah, kulihat kantung mata, nyaman menggelayut di bawah mata indahmu. Hidungmu masih mancung, Ayah, dan rambutmu masih ikal, meski rata, hitam dan keputih-keputihan.
Bagaimana kuungkapkan padamu, ayah, sementara aku sibuk menekuri diri, untuk menikmati pertemuan kita, berdua denganmu, ayahku, mendengarkan setiap kata yang meluncur di lidah cantikmu, memahami makna tatapan matamu yang kian redup, tapi, sungguh Ayah, dirimu tetap tampan, seperti dahulu..ketika masa aku kecil kita bersama, kau ajak aku ke gunung, menikmati telaga warna, di pantai, kau kenalkan aku indahnya karang, dan amisnya ikan, Ayah….
Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan padamu, Ayah, sementara, aku tak kuasa, aku sungguh kelu. Padahal itu ada Ayah. Sudah siap di ujung lidahku.

Bagaimana mungkin…

Kesederhanaanmu, kebijaksanaanmu, keapaadanyaanmu, ketulusanmu….

Ayah…

Kau, bagian indah dalam hidupku, Ayahku, bagaimana mungkin aku mengatakan padamu bahwa…

bahwa…

bahwa…

aku sangat mencintaimu, Ayah, sementara aku tak pernah melakukan apa-apa untukmu, untukmu….

Ayah… aku mencintaimu…. sangat mencintaimu…

Biarkan cintaku ini, dan airmataku ini, menjadi saksi, bahwa aku takkan pernah mengecewakanmu sampai kapanpun juga, menjagamu, menaatimu, dan menjadi yang terbaik bagimu, menjaga keluarga kita, menjaga Ibu dan Kakak-kakak, calon-calon keponakan….

Ya Alloh. Aku mencintai Ayah… Jagalah dia ya Alloh, berikan tempat terbaik, di akhirat nanti, dan selamatkanlah ia di akhirat dan di dunia, jadikanlah ia, kelak, tetangga Rasul di Surga….

Ya Alloh, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil…

No responses yet